Ya, mungkin kita familiar dengan judul di atas, mengingatkan aku pada sebuah lagu peterpan dengan judul yang sama, TAK ADA YANG ABADI. Entah apa yang menjadi alasanku untuk menulis tentang ini, yang aku tahu hanyalah kata-kata ini terus berputar dikepalaku, memenuhi ruang diotakku sejak pagi tadi. Sebelumnya mari mereview sejenak lirik lagu yang kurang lebih menggambarkan apa yang sedang aku pikirkan :
Takkan selamanya tanganku mendekapmu Takkan selamanya raga ini menjagamu Seperti alunan detak jantungku Tak bertahan melawan waktu Dan semua keindahan yang memudar Atau cinta yang telah hilang Tak ada yang abadi Tak ada yang abadi Tak ada yang abadi Tak ada yang abadi… Biarkan aku bernafas sejenak Sebelum hilang…. Tak ‘kan selamanya tanganku mendekapmu Tak ‘kan selamanya Raga ini menjagamu Jiwa yang lama segera pergi Bersiaplah para pengganti… Tak ada yang abadi Tak ada yang abadi Tak ada yang abadi Tak ada yang abadi..
Mungkin jika ingin menilik makna dari lagu tersebut, banyak hal yang bisa didapatkan, namun lebih baik aku membahas hal spesifik yang sedari tadi melayang dalam pikiranku. “Kekasih” .. ya, makhluk yang kadang disebut pacar, belahan jiwa, pasangan hidup atau banyak hal lagi. Tak ada “kekasih” yang abadi. Aku tahu, pernyataan ini mungkin akan menuai banyak perdebatan entah perdebatan individu, prinsip atau perdebatan hati.
“Apa ada kekasih yang abadi?”
Pertanyaan yang mungkin punya jawaban bervariasi, tergantung bagaimana masing-masing individu menyikapinya. Dan aku akan membawa kalian untuk berfikir, merenungkan sejenak untuk menemukan jawaban dari pertanyaan diatas. Tentu saja setiap dari kita pasti memiliki kekasih. Hanya saja waktu yang membedakannya, ada yang sudah mendapatkannya, ada yang sedang dalam pencarian atau ada juga yang sedang dalam tahap melepaskan. Teringat pada sebuah tulisan yang pernah aku buat tentang pertemuan dan perpisahan dalam kehidupan cinta. Tak ada yang abadi merujuk pada perpisahan. Setiap cinta punya keindahannya tersendiri, setiap cinta punya harapannya sendiri, setiap cinta punya cintanya sendiri. Lalu jika keindahan itu mulai pudar, harapan itu mulai hilang, cinta itu mulai beranjak pergi, apa kita sudah siap? apa kita sudah siap kehilangan sang kekasih? dan aku disini berbicara bukan tentang perpisahan karena takdir (baca: Kematian). Karena jika aku berbicara tentang perpisahan karena kematian jawabannya pasti sama : tidak siap! atau dipaksa untuk siap, nah jika perpisahannya karena murni pudarnya keindahan cinta itu sendiri, apa kita siap?
Jika jawabannya adalah “Aku Siap”, tentu tidak akan menjadi masalah, namun jika jawabannya adalah “Aku tidak siap”, bagaimana? Banyak hal yang membuat jawaban tidak siap itu muncul seperti :
- Aku tidak siap karena aku takut sendirian
- Aku tidak siap karena aku tidak mau
- Aku tidak siap karena aku sudah terbiasa bersama
- dan masih ada lebih dari seribu alasan untuk mengisi point ini
Ketidaksiapan mental dan pikiran manusia lah yang sebenarnya membuat beban bagi perpisahan. Sebagai seorang manusia, semua ini hal yang wajar, sering kali kita mendengar kalimat “semua itu butuh proses” , perpisahan juga butuh proses, dan perpisahan itu sendiri adalah proses pendewasaan diri bagi aku, kamu dan yang lainnya.
Aku sendiri seorang manusia, aku menulis ini bukan berarti aku siap, hanya saja sebagai pengingat bagi orang-orang yang tidak siap seperti aku, bahwa tidak ada “kekasih yang abadi” dan perpisahan PASTI terjadi bahkan bagi orang yang sudah menikah sekalipun. Hanya saja semua itu masih misteri…Entah itu kapan dan apa penyebabnya.
Mari persiapkan diri sebelum waktunya tiba, karena jika memang sudah saatnya siap tidak siap kita dipaksa untuk memberi jawaban
“Aku Siap”
created by : pgirl' 23 nov 2011



