Aku Bukan Penulis
Kamu benar, aku bukan penulis, wajar saja jika tulisan-tulisanku makna nya tidak sampai pada kamu, pada kalian. Aku akui aku bukan penulis yang baik, gaya bahasaku kacau, makna tulisanku kabur dari yang sebenarnya. Tulisan yang aku buat belakangan ini benar-benar berbeda dengan gaya penulisanku satu tahun yang lalu, jauh berbeda. Sungguh aku benci dengan keadaanku, semua seperti hal baru bagiku, aku bahkan membenci hasil tulisanku sendiri.
Aku bukan penulis, karena aku tidak pernah bermimpi untuk jadi penulis, aku hanyalah penyuka puisi, aku mencintai kata-kata yang teruntai manis dimata serta terdengar merdu ditelinga. Aku bukan penulis, aku hanya memadu padankan kata sesuka hatiku, kata-kata bagaikan nafas yang kuhela setiap hari. Aku bukan penulis, aku hanya pengolah kata menjadi kalimat bermakna, menjadi paragraf berharga.
Sejak kecil aku menyukai lantunan syair, dengan gaya bahasa yang tak langsung menguak makna, aku suka gaya bahasa penuh teka-teki, aku suka kalimat-kalimat perumpamaan, karena disana lah keindahan itu diletakkan. Aku mulai membuat syairku sendiri, karena bagiku syair adalah kebutuhanku kala itu, aku tak peduli apakah kelak pembacaku mengerti maksud dari syair yang aku lahirkan. Yang aku tahu aku puas melahirkan kata demi kata yang ku untai menjadi kalimat syahdu dihatiku, lewat itulah aku mengungkap semua yang terpendam dalam rahasiaku.
Namun kini aku membenci tulisanku, tak lagi terdengar merdu ditelingaku saat membacanya, ini gaya bahasa yang aneh, ini seperti bukan tulisanku. Apa aku telah kehilangan jiwaku yang lalu? Tak masalah bila kalian mencela hasil tulisanku, karena aku sendiri saat ini membencinya. Aku rindu syairku yang dulu. Aku kehilangan inspirasi, tulisanku kehilangan nyawanya, yang mampu kuhasilkan hanyalah seonggok kertas hambar, tanpa rasa, tak hidup. Sungguh aku membencinya.
Aku bukan penulis, maka jangan samakan tulisanku dengan tulisan-tulisan orang lainnya yang kau kenal, karena aku memang tak pernah ingin sama dengan mereka. Aku bukan penulis, aku tak lagi bisa berkarya seperti dulu, hatiku mungkin telah mati rasa, sehingga sulit sekali mencari kata per kata yang tepat untuk membuat tulisanku bernyawa kembali.
Adakah yang bisa mengembalikan jiwaku seperti dulu? saat aku masih memiliki banyak kepekaan terhadap semua hal yang terlintas dibenakku.
Aku bukan penulis, karena aku tak lagi peka dengan rasa…
pgirl’ 01 des 2011



