Berawal dari penyakitku yang kambuh tepat pada saat semua umat muslim di jakarta bersantap sahur, yang memaksa aku harus terjaga. Ingin menghubungi seseorang berharap bisa menemani hingga aku kembali terlelap, tapi aku tidak tahu harus menghubungi siapa, tidak tahu siapa yang masih bisa ku ganggu waktu tidurnya pagi-pagi buta seperti ini.

Akhirnya aku memutuskan untuk membuka salah satu account jejaring sosial melalui ponselku.

“Ah ini kan waktu sahur, biasanya banyak nih yang berkicau”, pikirku saat itu.

Benar saja baru satu menit aku membuka account itu Timeline ku sudah dipenuhi puluhan kicauan dari orang-orang yang aku Follow. Ada salah satu twit yang mencuri perhatianku, twit ini berasal dari salah satu motivatorku dalam membenahi diri, dia adalah Pak Jamil Azzaini , dia menuliskan kurang lebih seperti ini :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mungkin bagi kalian sederet kalimat ini biasa saja, sederhana, tidak ada maknanya, tapi bagiku, aku melihat sesuatu disini. Beliau adalah sosok ayah yang baik bagi anak-anaknya, membimbing dan mengajarkan banyak kebaikan. Mungkin anak-anaknya saat sahur itu sedang manja sehingga ingin makan bersama ayahnya, sehingga mereka makan bersama hanya dengan menggunakan satu piring. Hal ini mengingatkanku pada “kebiasaanku” saat ayahku sedang makan. Ayahku pernah bercerita, bahwa saat kita makan bersama diatas satu wadah, kebersamaan itu akan timbul diantaranya. Bukan aku yang malas mengambil piring untuk makanku sendiri, tapi aku lebih suka merasakan “kebersamaan” yang lebih dekat lagi dengan ayahku, maka aku sering “mengganggu” ayahku dengan meminta makanan yang ada diatas piringnya, tak hanya sampai disana saja, terkadang aku makan tidak dengan tanganku sendiri, sebut saja aku suka “disuapi” oleh ayahku. Mungkin tidak aneh jika ayahku menyuapi aku pada saat aku kecil saja, tapi semua itu tetap dilakukan sampai akhir hidupnya, saat itu aku masih kelas 2 SMA.

Mungkin setelah mengetahui hal ini kalian akan menganggap aku ini adalah anak yang manja, wajar saja. Aku sungguh tidak berkeberatan jika kalian berfikir seperti itu tentang aku dalam hal “makan disuapi”. Aku tak perduli walau banyak saudaraku berceloteh

“Udah gede kok masih disuapin”.

Aku paling-paling hanya membalasnya dengan tertawa kecil seraya berkata :

“hahaha, biarin aja, habis enak sih disuapin, tangan jadi ga kotor”

Mungkin aku hanya bergurau saat menjawab itu, tapi sebenarnya aku ingin sekali bilang ke mereka bahwa aku hanya ingin merasakan kasih sayang yang lebih dan lebih lagi setiap harinya. Ayahku begitu perhatian saat menyuapi aku, tak perduli seberapa rewelnya aku yang kadang menolak beberapa lauk yang diambilnya, dia juga tak pernah marah saat aku mengoceh tentang selederi atau bawang putih yang ikut terbawa kemulutku bersama makanan lain yang akhirnya aku memuntahkannya kembali karena memang aku agak mual dan tidak suka hal itu. Dari setiap suapan makanan yang masuk ke mulutku, aku merasakan kasih yang begitu besar, aku sangat merasakan bahwa “aku ini dicintai” dan aku ingin merasakan itu setiap hari bahkan setiap detik, dan mungkin jika aku tahu ayahku akan diambil secepat itu, sisa waktu yang aku punya inginnya aku terus dimanja oleh ayahku.

Aku Rindu Ayahku, Kangen Masa Kecilku

Sosok ayahku adalah sempurna dimataku, dia memiliki segalanya yang aku perlukan, dia memiliki kelembutan hati saat merawat dan memanjakanku, dia memiliki ketegasan saat mengajariku, dia memiliki kebijaksanaan saat memberikanku pandangan tentang kehidupan, dia memiliki kedisiplinan yang tinggi, dia memiliki kepintaran yang luar biasa dengan harapan anak-anaknya kelak bisa lebih hebat dari dirinya. Sungguh ayah yang luar biasa.

Ayahku bisa menjadi lembut sekali saat dia menyuapi aku, menggendong aku, mengenggam tanganku sewaktu jalan-jalan bersama. Ayahku bisa menjadi sangat tegas, saat menemukan nilai ulanganku tidak mencapai 100 yang mengakibatkan hadiah beberapa pecutan mendarat di bagian belakang tubuhku, tapi aku juga mendapat imbalan setimpal saat nilai ulanganku “sempurna”. Ayahku bisa menjadi sangat bijaksana dalam menangani setiap permasalahan yang timbul di keluarga kecilnya serta di keluarga besarnya. Ayahku bisa menjadi perancang masa depan yang handal untuk masa depan keluarganya, dengan mengontrol berbagai macam pengeluaran dan masih sempatnya dia menabung demi pendidikanku kelak. Ayahku sungguh luar biasa.

 

Aku tidak ingin berkata bahwa masa kecilku hanya biasa-biasa saja. Bagiku masa kecilku luar biasa, aku yang terlahir menjadi anak perempuan satu-satunya dan memiliki seorang kakak laki-laki yang juga satu-satunya selalu dikira kami ini kembar, karena usia kami hanya terpaut 1,5 th. Lucu sekali mengingat aku selalu dipakaikan baju yang kadang-kadang sama dengan kakakku, dibelikan mainan yang sama dengan kakakku,bermain dengan teman-teman yang sama dengan kakakku, membuat aku tumbuh menjadi anak perempuan yang tomboy. Bahkan sejak kecil aku sudah di anugerahi rasa percaya diri yang luar biasa oleh Tuhan, sejak kecil banyak perhatian yang tertuju kepadaku, aku berani berbicara didepan orang banyak, bernyanyi, dan melakukan hal lainnya tanpa aku harus merasa canggung. Aku tumbuh menjadi anak yang berani, dan terkadang nakal juga, sehingga setiap aku pulang dari bermain aku selalu menambah koleksi luka di tubuhku, lucu sekali jika aku mengingat diriku saat itu.

Seseorang pernah berkata dan masih lekat kuingat dalam ingatanku :

“Susah ya kalau udah kebiasaan dimanja dari kecil, apa-apa selalu mengandalkan orang lain”

Ingin rasanya aku bilang saat itu, tahu apa dia soal masa kecil aku? Aku mungkin memang dimanja oleh ayahku, tapi bukan dimanja dengan materi, bukan dimanja dengan mengabulkan semua keinginanku. Aku memang dimanja, tapi bukan berarti aku tidak di didik oleh ayahku. Sejak kecil ayahku mengajariku banyak hal, aku diajari menyetir mobil sejak saat aku masih SD sehingga saat masuk SMP tidak heran jika aku sudah bisa menyetir sendiri,bersama dengan itu juga ayahku mengajariku mengendarai motor. Masih sangat lekat diingatanku alasan dia mengajariku banyak hal, yaitu :

Kamu ayah ajarkan seperti ini agar kelak saat kamu dewasa kamu tidak menyusahkan orang lain, ayah ingin kamu bisa melakukan banyak hal untuk dirimu sendiri.

Sungguh ayahku tidak pernah mengajariku untuk menjadi beban bagi hidup orang lain. Masa kecilku sangat luar biasa, walau aku tidak dimanjakan dengan materi, tapi ayah selalu membuatku merasa “cukup”.

Pagi itu aku hanya bisa mengenangnya dengan sebuah status “Aku rindu ayahku, kangen masa kecilku”

lalu tiba-tiba kakak sepupuku merespon sesuatu di BBM-ku :



 

 

 

 

 

 

 

Tertegun aku merenungkan perkataan kakak sepupuku itu, dia benar, ayahku tidak kemana-mana, jika aku merindukannya aku bisa menemuinya di “merajan” (red: tempat persembahyangan milik keluarga), dengan kata lain, jika aku ingin merindukannya dan ingin menemuinya aku cukup berdoa saja, karena dia ada disana, ditempat aku biasa menemui Tuhanku juga.

ada satu hal lagi yang membuat aku ingin tertawa saat melihat balasan BBM dari kakak sepupuku :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Klise memang kalimatnya, tapi ini membuatku merenung, mungkin benar ayahku sudah tiada, tapi aku yakin dia masih memperhatikan aku setiap harinya, jadi “kenakalan” aku sebagai anaknya pasti dia juga bisa tahu. Semoga aku tidak membuatnya sedih atas kenakalan kecilku, namanya juga anak-anak pasti pernah nakal, ya kan yah? :) hehehe…

Ayah, aku tahu aku mungkin belum bisa sehebat dirimu dalam menjalani hidup, aku benar-benar kehilangan sosok pemimpin saat kau tiada. Begitu cepat hingga untuk mengucapkan “betapa aku mencintaimu” saja aku tidak sempat. Ayah, tetap tuntun anakmu ini ya, aku sering kehilangan arah, aku sering merasa kalah, aku ingin bisa mewujudkan keinginanmu untuk menjadikan diriku sosok yang mandiri, lembut, penyayang, namun tetap tegas, tegar dan dewasa. Semoga kelak aku mendapatkan jodoh yang seperti dirimu, yang mengerti artinya kesabaran dalam “menyuapiku” yang mengerti bagaimana caranya memberi ketegasan terhadapku tanpa membuatku merasa kecil ataupun tanpa menyakiti perasaanku, aku ingin lelaki yang paling tidak bisa memiliki kearifan sepertimu, pemikiran yang terbuka dan lebih mementingkan keluarga daripada egonya sendiri.  ayah, tolong tanyain ke Tuhan ya, siapa laki-laki yang akan membuatku beruntung karena aku memilikinya yang bisa menjagaku dari seluruh dunia dan juga dari dirinya sendiri, kalau sudah tahu, bisikin ke aku ya ayah, aku tunggu kehadiranmu ditiap sudut mimpi kecilku.

 

Created by : Chily

21 Agustus 2011 @ my room

 

 

 

 

 

 

“Ida Bagus Anom Suadnyana”